Uncategorized

Pasar Kenangan Rumah Banjarsari Solo

Pasar Kenangan Rumah Banjarsari Solo

Pasar Kenangan Barang Djadoel & Lawasan, itulah judul acara Rumah Banjarsari Solo yang digelar Sabtu-Minggu (7-8/10/2023). Dari poster yang dibentangkan di depan Rumah Banjarsari, sepanjang dua hari Pasar Kenangan dapat digelar berasal dari pukul 09.00 WIB – 23.00 WIB. Saat tiba di lokasi pukul 18.00 WIB lebih sedikit, Solopos.com takjub melihat tak ada batasan pada sesama penjaja dan pada penjaja bersama dengan pembeli.

Dalam sebuah ruangan terbuka yang cukup luas, Pasar Kenangan digelar bersama dengan sederhana. Para pedagang sekaligus peminat barang lawasan duduk lesehan di bentangan alas selagi barang-barang yang mereka menjual ditata rapi di depan mereka. Bermacam-macam barang lawasan hadir di sana, jadi berasal dari piring-piring antik, perangko, dan mainan anak, koin dan duit lama, kamera analog, kebaya lawas, batik-batik cantik, buku-buku cetakan lama, dan juga miniatur mobil https://hickoryridgegrill.com/ dan masih banyak lagi.

Kesederhanaan pasar yang terbangun justru mengakibatkan hubungan yang hangat dan terbuka pada para pengunjung bersama dengan pedagang yang hadir pada Sabtu (7/10/2023). Beberapa pengunjung keluar perhatikan barang-barang antik yang unik dan langka, selagi yang lainnya sibuk memilih-milih atau sekadar melihat-lihat. Saat asyik melihat-lihat berbagai barang lawasan yang ada di Pasar Kenangan malam itu, Direktur Rumah Banjarsari Solo, Zen Zulkarnain, memberi salam Solopos.com bersama dengan senyuman ramah.

“Sebenarnya acara ini rintisan, didalam bhs Jawa bisa disebut babat alas. Kami coba memberi ruang kepada komunitas barang jadul dan lawasan bersama dengan beberapa syarat tertentu. Kemudian acara ini terhitung pasti saja mengakses jaringan, tercipta pasar baru, itu yang diharapkan,” ujar Zen selagi diwawancara Solopos.com, Sabtu (7/10/2023).

Zen bercerita gagasan Pasar Kenangan hadir berasal dari teman-teman kuliah Zen yang bekerja di sektor informal mengeluhkan kelesuan ekonomi akibat energi membeli penduduk menurun. Akhirnya tercetuslah gagasan membentuk acara simpel berupa Pasar Kenangan.

Pasar Rumah Banjarsari Solo

Zen mengaku gagasan kawan-kawannyalah yang membentuk Pasar Kenangan dilakukan tanpa booth atau tenant yang membawa dampak mengolah mahal. Dengan kesederhanaan itu, sepanjang dua hari, pelaku usaha barang lawasan yang ikut di Pasar Kenangan hanya dikenai retribusi listrik dan kebersihan senilai Rp50.000.

Rencananya, acara digelar tiap tiap bulan bersama dengan para penjaja barang lawasan yang sudah ikut dapat diikutkan lagi. Setelah satu semester dapat dievaluasi lagi bagaimana pengembangan selanjutnya. Zen menghendaki ke depannya dapat makin banyak barang-barang yang hadir di Pasar Kenangan, mungkin berupa buku-buku lawas atau sistem kurator yang lebih spesifik. Dia terhitung menghendaki para pedagang yang ikuti acara ini bisa meraih omzet yang optimal.

Zen menyatakan sejak pagi Pasar Kenangan diramaikan oleh customer para pedagang lawasan. Hal ini karena mereka sendiri sudah miliki akun media sosial dan mengabarkan kepada pelanggan mereka jika ada lapak offline di Pasar Kenangan.

“Tetap saja, kita bergerak berasal dari keprihatinan sektor nonformal. Kami jadi pasar itu terbentuk berasal dari ruang transaksional dan interaksi, pertemuan sosial lah bhs lainnya. Dari acara-acara Rumah Banjarsari Solo kita jadi wajib memberi asupan baik didalam bentuk literasi atau bentuk ikatan sosial kepada publik,” jadi Zen.

Zen menyayangkan pembangunan di Solo justru merenggut ruang-ruang hubungan organik, seperti yang berlangsung selagi pasar-pasar direvitalisasi. Menurut dia, revitalisasi pasar membawa dampak pasar sepi karena pembangunannya tidak melihat kebutuhan pelanggan dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *